Ada satu hobi laki-laki yang nyaris tak pernah dibaca serius, padahal ia menyimpan arsip sosial yang rapi: memelihara burung dalam sangkar. Ia terlihat jinak, estetik, bahkan spiritual. Tapi jika ditarik sedikit ke belakang—dan sedikit ke dalam—ia berbicara tentang hasrat, kuasa, dan perubahan zaman yang pelan-pelan meninggalkannya.
Di banyak rumah Jawa, burung bukan sekadar hewan. Ia pengisi ruang. Penanda pagi. Getaran yang membuat rumah terasa hidup. Dalam kosmologi lama, burung menghadirkan langit ke teras. Sangkar adalah bingkai kosmos kecil—tertata, rapi, tidak liar. Dan di situlah letak daya tariknya: keindahan yang bisa dihadirkan tanpa harus bernegosiasi.
Hobi ini tumbuh subur dalam dunia laki-laki. Dunia yang sejak lama dilatih untuk mengatur, menata, dan menenangkan kegelisahannya dengan kontrol. Burung ditangkap, dipelihara, dirawat, dilombakan. Ia boleh bernyanyi, asal di tempatnya. Boleh indah, asal tidak pergi.
Ini bukan sekadar soal burung. Ini tentang cara suatu generasi laki-laki belajar mencintai: dengan membingkai.
Sementara itu, zaman bergerak.
Perempuan—yang lama ditempatkan di ruang domestik yang serupa sangkar—mulai membaca ulang posisinya. Pendidikan, kerja, wacana feminisme, dan pengalaman tubuh membuat banyak perempuan sadar kelas: siapa yang selama ini menentukan ritme, siapa yang hanya menyesuaikan. Mereka mulai menolak peran “indah tapi diam”, “dirawat tapi dibatasi”.
Di titik ini, terjadi gesekan halus.
Sebagian laki-laki masih memelihara hasrat lama: mengontrol sesuatu yang indah agar tetap dekat. Jika bukan burung, bisa karya, pasangan, atau ingatan. Mereka membuat frame, menangkap momen, mengawetkan rasa. Bukan karena jahat, tapi karena itulah bahasa cinta yang diwariskan.
Namun dunia hari ini tidak lagi ramah pada bahasa itu.
Keindahan kini menuntut ruang. Relasi menuntut negosiasi. Perempuan tidak lagi mau hanya bernyanyi di sangkar yang rapi. Mereka ingin ikut menentukan di mana, kapan, dan untuk siapa suaranya dilepaskan.
Maka hobi burung perlahan berubah makna.
Ia masih ada, masih ramai, masih dilombakan. Tapi semakin sering ia dibaca sebagai nostalgic circumstances—jejak dunia lama yang sedang ditinggal. Seperti radio tua, atau foto hitam-putih yang dulu terasa hidup, kini lebih sering jadi pajangan.
Memang konteksnya semakin hari semakin berubah.
Barangkali, yang perlu ditanyakan bukan lagi: apakah burung bahagia di sangkar? Melainkan: apa yang sedang dicari laki-laki ketika ia ingin sesuatu yang indah tapi tidak bisa pergi?
Jawabannya mungkin sederhana dan menyedihkan sekaligus: rasa aman.
Dan seperti semua nostalgia, ia akan tetap dikenang. Tapi jarang bisa dipertahankan.
Zaman punya caranya sendiri untuk membuka pintu sangkar—pelan, tanpa marah, sambil membiarkan kita memutuskan: mau belajar berelasi, atau terus merawat ingatan.