Mengapa Kita Begitu Giat Menghakimi Perselingkuhan?

Mengapa Kita Begitu Giat Menghakimi Perselingkuhan?

~Di Indonesia, ada satu pola yang nyaris selalu berulang.
Setiap kali muncul kasus perselingkuhan—entah dari publik figur, selebgram, tokoh agama, atau orang biasa—reaksinya hampir selalu sama: riuh, emosional, dan kolektif. Timeline berubah menjadi ruang sidang moral. Semua ingin ikut bicara. Semua ingin ikut menghakimi.
Menariknya, gairah ini sering kali tidak sepenuhnya lahir dari pemahaman relasi yang matang. Banyak kemarahan muncul bukan karena nilai itu sendiri, tapi karena ada rasa tidak aman yang terusik. Ada kegelisahan eksistensial yang butuh sasaran. Perselingkuhan menjadi objek yang ideal: konkret, personal, dan bisa ditunjuk sebagai “salah mutlak”.


Pergeseran Makna “Setia” yang Jarang Dibicarakan


Yang sering luput dibahas adalah satu hal penting: makna setia itu sendiri sudah bergeser, sementara cara kita menghakiminya masih memakai kerangka lama.
Dulu, kesetiaan hampir sepenuhnya dipahami sebagai kesetiaan fisik dan peran: tidak berpindah pasangan, tidak melanggar kontrak sosial, tidak keluar dari struktur yang disepakati. Di masyarakat yang lebih stabil dan perannya kaku, definisi ini relatif bekerja.
Hari ini, relasi jauh lebih kompleks. Orang hidup lebih lama, pilihan lebih banyak, identitas lebih cair, dan kebutuhan emosional lebih berlapis. Setia tidak lagi sesederhana “tidak selingkuh”, tapi menyentuh wilayah yang lebih dalam:
setia pada kejujuran, pada proses bertumbuh bersama, pada kesadaran diri, dan pada keberanian untuk mengakui ketika relasi sudah mati tapi tetap dipertahankan demi citra.
Masalahnya, kita sering menuntut kesetiaan model lama di dunia yang sudah berubah, lalu kaget ketika realitas tidak mengikuti.


Hasrat Keteraturan di Tengah Dunia yang Cair


Di titik inilah kemarahan kolektif bekerja. Ketika dunia relasi makin cair—peran gender bergeser, perempuan lebih mandiri, laki-laki kehilangan monopoli kontrol, relasi tak lagi tunggal—banyak orang merasakan kehilangan pegangan.
Penghakiman atas perselingkuhan lalu berfungsi sebagai alat menegakkan ulang keteraturan. Seolah dengan menghukum satu kasus, kita bisa mengembalikan dunia ke bentuk yang lebih rapi, lebih bisa ditebak. Di balik itu, tersembunyi nostalgia akan hubungan ideal: stabil, patuh, jelas perannya, dan minim konflik.
Padahal, sering kali nostalgia itu bukan cermin realitas masa lalu, tapi fantasi kolektif tentang keteraturan yang sebenarnya tidak pernah benar-benar ada.


Delusi Kolektif dan Bayangan yang Diproyeksikan


Yang jarang diakui: potensi “berselingkuh”—dalam arti luas—ada di hampir setiap manusia. Bukan selalu soal fisik, tapi soal keinginan kabur, merasa kurang, ingin diakui, atau ingin hidup lain. Bedanya hanya soal siapa yang jujur, siapa yang menekan, dan siapa yang ketahuan.
Di sinilah penghakiman massal menjadi mekanisme proyeksi. Kita menaruh bayangan kita pada tubuh orang lain, lalu merasa lebih bersih setelah ikut melempar batu. Seperti yang pernah kita bicarakan sebelumnya, ini adalah delusi kolektif: kesepakatan diam-diam untuk tidak menatap luka sendiri.


Dari Moral ke Algoritma


Zaman sekarang, kemarahan moral juga punya nilai ekonomi. Kasus perselingkuhan laku karena memicu emosi, memperpanjang atensi, dan menghasilkan data. Perang gender, penghakiman publik, dan drama relasi menjadi komoditas algoritma.
Tanpa sadar, banyak orang yang merasa sedang membela nilai, padahal sedang ikut menyuplai sistem. Moral berubah jadi konten. Kemarahan berubah jadi angka.
Jika Kita Benar-Benar Bagian dari Realitas
Kalau kita terima satu premis sederhana—bahwa manusia adalah co-creator realitas—maka fokusnya bergeser. Bukan hanya “siapa yang salah”, tapi bagaimana cara kita memahami relasi, apa yang belum beres dalam diri kita, dan mengapa kita lebih suka menghakimi daripada memahami.
Mengkritik perselingkuhan tetap sah. Nilai tetap penting. Tapi ketika penghakiman menjadi pelarian dari refleksi, ia kehilangan daya etikanya. Ia tidak memperbaiki relasi, hanya menjaga ilusi keteraturan.
Mungkin pertanyaan yang lebih jujur bukan lagi:
“Siapa yang paling salah?”
melainkan:
apakah cara kita memahami setia masih relevan dengan manusia yang terus berubah?
Karena selama definisi lama dipaksakan pada realitas baru, yang lahir bukan kesetiaan—melainkan kepura-puraan yang rapi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index