Poros yang Tak Terlihat dalam Sebuah Klan

Poros yang Tak Terlihat dalam Sebuah Klan

~Dalam banyak keluarga, ada dua kisah yang tampak seperti takdir:
yang satu kaya tujuh turunan,
yang lain kere gedibal songolikur—miskin struktural, seolah lahir sudah terlambat dan serba minus.
“Tujuh” di sini bukan hitungan literal.
Ia lebih mirip simbol daya tahan:
berapa lama sebuah pola hidup mampu bertahan sebelum runtuh atau berubah arah.
Dan yang sering luput kita sadari:
kedua pola ini tidak statis. Ia fluktuatif. Dinamis. Bisa naik, bisa runtuh.


Warisan yang Sering Disalahpahami


Banyak orang mengira yang diwariskan dalam sebuah trah hanyalah harta, tanah, atau nama besar.
Padahal yang paling menentukan justru yang tak kasat mata: cara membaca hidup,
cara menunda nafsu,
cara memahami sebab–akibat,
dan cara terhubung dengan pusat diri.
Ada klan yang kaya karena generasi awalnya memahami hukum tabur tuai:
kerja keras, disiplin, pengendalian diri, kesadaran terhadap dampak.
Namun pengetahuan itu berhenti di mereka.
Anaknya hanya mewarisi hasil, bukan kesadaran.
Ketika keterhubungan itu tak diturunkan—
ketika sholat (dalam makna orientasi batin) tak lagi hadir—
kelimpahan kehilangan porosnya.
Dari luar tampak kokoh.
Dari dalam, rapuh.
Dan keruntuhan bisa datang kapan saja:
bukan karena nasib jahat,
melainkan karena fondasi tak lagi dirawat.
 

Miskin Struktural, Tapi Tidak Beku


Sebaliknya, ada yang lahir di kondisi sebaliknya.
Sistem tidak berpihak.
Akses terbatas.
Luka diwariskan tanpa sempat dipilih.
Ini bukan romantisasi penderitaan.
Ini pengakuan bahwa ada kondisi yang memang tidak adil.
Namun di tengah suffering struktural itu,
kadang muncul satu orang yang mulai bertanya:
“Apa yang masih bisa kuatur, meski dunia tak adil?”
Ia mulai sholat—bukan sekadar menggugurkan kewajiban,
tapi sebagai latihan keterhubungan:
menata napas,
menunda reaksi,
membaca diri sebelum menyalahkan dunia.
Tidak langsung kaya.
Tidak tiba-tiba aman.
Yang muncul lebih dulu hanyalah secerca bangunan kecil:
disiplin sederhana,
kejernihan berpikir,
keputusan yang sedikit lebih tepat dari kemarin.
Itulah stepping stone.
Bukan istana,
tapi pijakan pertama yang nyata.


Sholat dan Daya Tahan Sebuah Trah/Klan


Di titik ini terlihat jelas:
sholat—sebagai keterhubungan—tidak menentukan dari mana seseorang berasal,
tapi menentukan seberapa stabil ia bertahan dan bergerak.
Tanpa keterhubungan:
klan bisa naik cepat, lalu runtuh keras. Dengan keterhubungan:
seseorang bisa naik pelan, tapi akarnya menghunjam.
Sholat tidak menghapus fluktuasi hidup,
ia menjinakkan amplitudonya.
Orang yang terhubung:
tidak mabuk saat kaya,
tidak hancur saat miskin,
dan tidak mewariskan luka sebagai pola hidup.


Satu Poros Bisa Mengubah Arah


Sebuah trah tidak selalu berubah karena banyak orang sadar.
Sering kali cukup satu poros baru.
Satu orang yang:
berhenti mengulang pola lama,
tidak menjadikan penderitaan sebagai identitas,
dan tidak menjadikan kelimpahan sebagai alasan lupa diri.
Dari luar, ia tampak biasa.
Dari dalam, ia sedang menggeser arah sejarah kecil keluarganya.


Penutup


Trah/Klan bukan penjara.
Ia hanya medan awal.
Dan sholat—dalam makna keterhubungan—
adalah cara seseorang tidak sepenuhnya ditentukan oleh warisan,
baik warisan kekayaan maupun kemiskinan.
Karena pada akhirnya,
yang menentukan bukan seberapa tinggi kita memulai,
melainkan apakah kita masih tahu ke mana harus menghadap.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index