Tren Ubah Penampilan Versi Era 80an Adalah Gerakan Tanpa Sadar Mempercepat Hari Kiamat?

Tren Ubah Penampilan Versi Era 80an Adalah Gerakan Tanpa Sadar Mempercepat Hari Kiamat?
Ilustrasi: Foto Haji Rhoma yang diperbaiki dan dijernihkan oleh Ai

Hutan masih terus terbakar. Di sejumlah wilayah Kalimantan, Riau, dan daerah lainnya, petugas masih berjibaku berminggu-minggu memadamkan api di tengah kemarau yang belum juga berakhir. Di saat yang sama, kita justru semakin terbiasa menggunakan teknologi yang ternyata membutuhkan sumber daya alam terutama air bersih dalam jumlah yang sangat besar.

Pertanyaannya sederhana, perlukah kita menggunakan AI untuk segala hal, bahkan untuk sesuatu yang sebenarnya tidak kita butuhkan?

Pertanyaan ini terasa semakin relevan ketika tren mengubah foto menjadi versi diri di era 1980-an kembali ramai di Instagram. Per hari ini, tercatat lebih dari 4 juta pengguna disebut telah mengikuti tren tersebut dengan menggunakan prompt seperti, “Typed into ChatGPT, what would I have looked like in the 80’s.”

Sekilas, tren ini memang hanya hiburan. Namun, di tengah keluhan tentang cuaca yang semakin panas dan sulit diprediksi, ada sebuah ironi yang sulit untuk diabaikan bagi mereka yang mengerti bagaimana cara Ai bekerja.

Kita mengeluhkan panas bedengkang, tetapi pada saat yang sama terus mendorong dan memaksa penggunaan teknologi yang membutuhkan energi dan air dalam jumlah besar.

Ketika berbicara mengenai dampak Ai terhadap lingkungan, kebanyakan orang mungkin langsung teringat konsumsi listrik dan emisi karbon. Padahal, ada persoalan lain yang tidak kalah penting: air bersih.

Model Ai membutuhkan pusat data berukuran besar untuk menjalankan proses komputasi. Ribuan hingga jutaan perangkat di dalamnya bekerja secara terus-menerus dan menghasilkan panas yang sangat tinggi.

Agar server tidak mengalami overheating, pusat data membutuhkan sistem pendingin. Pada sejumlah fasilitas, sistem tersebut menggunakan air dalam jumlah besar.

Beberapa estimasi bahkan menyebut sekitar 20–50 interaksi atau perintah prompt dengan Ai membutuhkan penggunaan sekitar 500 mililiter air, meski angka sebenarnya sangat bergantung pada model, pusat data, lokasi, sistem pendingin, dan tingkat kesulitan prompt yang diproses.

Tak sampai di situ. Produksi chip semikonduktor yang digunakan untuk menjalankan Ai juga membutuhkan yang disebut ultrapure water, yakni air dengan tingkat kemurnian sangat tinggi.

Menurut berbagai proyeksi, kebutuhan air industri Ai dan pusat data dapat meningkat drastis dalam beberapa tahun mendatang.

“Memangnya air bersih yang sudah digunakan itu langsung lenyap dari muka bumi?”

Masalahnya bukan sekadar apakah air tersebut "lenyap".

Sebagian air yang digunakan dalam sistem pendinginan memang dilepaskan kembali ke atmosfer sebagai uap. Namun persoalan lingkungan tidak sesederhana menghitung apakah air itu musnah atau tidak.

Yang menjadi persoalan adalah di mana air tersebut diambil dan kapan air itu dibutuhkan.

Jika pusat data dibangun di wilayah yang sudah mengalami kekeringan atau tekanan terhadap sumber air bersih, penggunaan air untuk kebutuhan industri dapat berpengaruh langsung dengan kebutuhan masyarakat sekitar.

Dengan kata lain, air yang menurut kita terasa seperti sekadar angka dalam sebuah sistem teknologi, bisa jadi merupakan sumber daya yang sangat berharga bagi orang lain.

Teknologi AI: Kecerdasan buatan menghabiskan pasokan air minum kita, buat  apa? - BBC News Indonesia

Jejak AI Tidak Hanya Persoalan Air bersih, Tapi Juga Dampaknya Terhadap Lingkungan Secara Luas

Pertama, konsumsi listrik.
Pelatihan dan pengoperasian model AI skala besar membutuhkan daya komputasi yang sangat besar. Semakin banyak orang menggunakan AI, semakin besar pula kebutuhan infrastruktur komputasinya.

Kedua, emisi karbon.
Jika listrik yang digunakan pusat data masih berasal dari bahan bakar fosil seperti batu bara dan gas alam, kebutuhan energi tersebut pada akhirnya ikut menghasilkan emisi gas rumah kaca.

Ketiga, sampah elektronik.
Perkembangan AI mendorong kebutuhan terhadap GPU, server, chip, dan perangkat komputasi berperforma tinggi. Ketika teknologi berkembang semakin cepat, perangkat lama berpotensi lebih cepat tergantikan dan menambah persoalan e-waste.

Jadi, ketika kita mengetik sebuah prompt, prosesnya memang terlihat sederhana.

  • Kita mengetik.
  • AI menjawab.
  • Selesai.

Namun di balik itu semua terdapat pusat data, server, listrik, sistem pendingin, air, perangkat keras, dan rantai pasok global yang bekerja untuk menghasilkan jawaban atas perintah kita tersebut.

Perusahaan Teknologi Mulai Mencari Jalan Keluar

Kabar baiknya, perusahaan teknologi besar juga mulai menyadari persoalan tersebut.

Perusahaan seperti Google, Microsoft, dan Meta terus mengembangkan berbagai teknologi untuk mengurangi penggunaan air dan energi dalam operasional pusat data.

Salah satu pendekatannya adalah mengganti sistem pendinginan yang banyak menguapkan air dengan pendinginan berbasis udara atau sistem closed-loop cooling, yang memungkinkan cairan pendingin digunakan berulang kali.

Ada pula upaya menggunakan air daur ulang, air limbah yang telah diolah, hingga sumber air non-potabel untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan air bersih.

Lokasi pusat data juga menjadi bagian dari solusi. Membangun fasilitas di wilayah dengan iklim lebih dingin memungkinkan perusahaan memanfaatkan udara luar sebagai bagian dari sistem pendinginan.

Di balik persaingan tanpa henti untuk kapasitas AI

Sejumlah perusahaan bahkan memiliki target untuk mengembalikan lebih banyak air ke lingkungan dan masyarakat melalui proyek konservasi dibandingkan jumlah air yang mereka konsumsi.

Namun, teknologi untuk mengurangi dampak lingkungan tetap membutuhkan waktu, investasi, dan perubahan infrastruktur.

Sementara itu, jumlah pengguna AI terus bertambah.

"LAH!? TERUS KITA MASYARAKAT BIASA MESTI BIJIMANE?"

Sebagai pengguna biasa, kita memang tidak memiliki kendali langsung atas operasional perusahaan terhadap pusat datanya.

Tetapi kita memiliki kendali atas satu hal: kebiasaan kita sendiri.

Bayangkan jika jutaan orang menggunakan Ai setiap hari untuk hal-hal sama sekali tidak penting. Dampak dari satu permintaan mungkin terlihat kecil.

Tetapi jika dikalikan jutaan pengguna dan jutaan permintaan?

Angkanya tentu menunjukan hasil yang berbeda.

Karena itu, menggunakan AI secara bijak bukan berarti harus berhenti menggunakannya. Kita hanya perlu mulai membedakan mana yang benar-benar berguna dan mana yang sekadar konsumsi teknologi tanpa tujuan.

Pertama, buat prompt yang lebih efektif.
Pikirkan terlebih dahulu apa yang ingin kita dapatkan. Instruksi yang jelas dan spesifik dapat mengurangi kebutuhan untuk berulang kali meminta AI memperbaiki jawaban.

Kedua, jangan gunakan AI untuk segala sesuatu.
Menggunakan AI untuk pekerjaan yang kompleks dan memang membutuhkan bantuan tentu masuk akal. Tetapi untuk hal-hal sederhana yang dapat kita lakukan sendiri dalam beberapa detik, mungkin tidak selalu diperlukan.

Ketiga, kurangi pembuatan gambar dan video yang cut the pan think.
Generate gambar terutama video membutuhkan komputasi yang jauh lebih berat dibandingkan percakapan teks sederhana. Jadi, kalau hanya ingin mencoba-coba tanpa tujuan, mungkin kita bisa berpikir dua tiga kali sebelum menekan tombol generate.

Intinya bukan soal menjadi anti-Ai. Ini soal menggunakan teknologi secara bijak.

Ancaman AI Bukan Lagi Sekadar Fiksi

Menariknya, perdebatan tentang masa depan AI tidak hanya berhenti pada persoalan lingkungan.

Wacana mengenai potensi bahaya kecerdasan buatan kembali ramai di media sosial setelah mantan peneliti OpenAI dan Anthropic, Coxon (@hilbertspaess), menyampaikan kekhawatirannya mengenai risiko AI terhadap eksistensi manusia.

Pernyataan tersebut kemudian ikut memancing respons dari sejumlah peneliti AI lainnya, termasuk Evan Hubinger dari Anthropic, yang pernah membahas kemungkinan risiko ekstrem AI terhadap manusia.

Tentu, prediksi mengenai kepunahan manusia akibat AI masih menjadi perdebatan dan tidak bisa dianggap sebagai kepastian.

Namun, ada satu hal yang menarik. Selama ini kita sering membayangkan masa depan sebagai sesuatu yang jauh: robot mengambil alih pekerjaan, mesin mengalahkan manusia, atau bahkan dunia seperti yang digambarkan seolah-olah manusia akan berperang dengan kecerdasan buatan di masa depan.

The Reality of AI vs. Human Intelligence: A Balanced Perspective | ItSoli

Padahal, ancaman yang lebih nyata mungkin jauh lebih sederhana.

  • Air.
  • Energi.
  • Panas.
  • Emisi.
  • Sampah elektronik.
  • Dan cara kita menggunakan teknologi setiap hari.

Mungkin pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan lagi, “Kalau saya hidup di tahun 1980-an, wajah saya akan seperti apa?”

Tetapi: “Kalau AI terus berkembang seperti sekarang, seperti apa bumi yang akan kita tinggali beberapa dekade mendatang?”

Karena pada akhirnya, secanggih apa pun kecerdasan buatan yang kita ciptakan, teknologi itu tetap membutuhkan satu hal yang tidak bisa digantikan.

~bumi tempat manusia dan anak keturunannya hidup~

*Tulisan ini sendiri dirangkum dari berbagai sumber yang dibantu oleh ChatGPT

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index