Sentralisasi dan Desentralisasi jika diibaratkan sebagai Pernapasan

Sentralisasi dan Desentralisasi jika diibaratkan sebagai Pernapasan

NAPAS

Kita tahu, Setiap kehidupan dimulai dari sebuah ritme menarik dan menghembuskan. Kita mengambil sesuatu dari lingkungan, meresapinya ke dalam, lalu mengembalikannya keluar.

Kalau sentralisasi adalah gerakan menarik segala sesuatu menuju pusat; maka desentralisasi adalah gerakan dari pusat kepada bagian-bagian yang membentuk sistem itu sendiri. Kedua kutub sistem ini seringkali saling mensubtitusi layaknya manusia bernapas.

MENARIK KE PUSAT

Sebuah sistem membutuhkan pusat untuk mengumpulkan informasi, sumber daya, dan arah. Tanpa kemampuan memusatkan, energi dapat tersebar terlalu jauh sehingga tidak pernah menjadi keputusan atau tindakan bersama.

Namun sesuatu yang sudah terkumpul tidak bisa terus ditahan. Seperti napas yang hanya ditarik akan menjadi sesak, pusat yang terus menarik sumber daya dan keputusan pada akhirnya dapat membuat jaringan kehilangan kemampuan untuk bergerak sendiri.

MENGHEMBUSKAN KE JARINGAN

Desentralisasi adalah pelepasan kembali apa yang telah dikumpulkan: kewenangan, sumber daya, informasi, dan ruang untuk mengambil keputusan. Tujuannya bukan menghilangkan pusat, melainkan membuat bagian-bagian sistem mampu berfungsi tanpa harus selalu menunggu pusat.

Kalau kita sedikit lompat dan memakai referensi film “The Platform” 
ini menjadi metafora yang menarik. Makanan memang tersedia di atas, tetapi ketika setiap lantai mengambil sebanyak mungkin sebelum makanan turun, sesuatu yang seharusnya mengalir melalui seluruh sistem berubah menjadi perebutan antar-lapisan.

KETIKA ALIRAN TERPUTUS

Masalahnya, apakah hanya tentang siapa yang berada di atas? tetapi apa yang terjadi sepanjang perjalanan ke bawah. Sedikit demi sedikit, sumber daya dapat mengalami “by-pass
keluar dari jalur bersama dan masuk ke kepentingan pribadi sebelum mencapai tujuan.

Scarcity/Rasa kurang dapat memperkuat proses itu. “Kalau saya tidak mengambil sekarang, mungkin nanti saya tidak kebagian” siklus rasa kurang melahirkan ketidakpercayaan, ketidakpercayaan melahirkan jalan sendiri, dan jalan sendiri membuat sistem semakin bocor.

DESENTRALISASI tidak berhenti pada persoalan PEMBAGIAN

Karena itu, memberikan kewenangan kepada daerah belum tentu menghasilkan masyarakat yang lebih mandiri. Kekuasaan yang dilepas dari satu pusat dapat kembali membentuk pusat-pusat kecil di bawahnya alias membentuk elit2 daerah.

Desentralisasi yang sehat membutuhkan jaringan yang mampu mengatur dirinya sendiri sekaligus tetap terhubung dengan keseluruhan. Semua orang  ? harus menjadi pusat, tetapi setiap bagian memiliki cukup kapasitas untuk bertindak dan cukup keterhubungan untuk saling mengoreksi.

DARI SISTEM KEMBALI KE MANUSIA

Di sinilah persoalan sistem akhirnya kembali kepada pendidikan. Masyarakat yang ingin terdesentralisasi membutuhkan manusia yang tidak hanya mampu mengikuti instruksi, tetapi juga mampu memilih, menilai, bertindak, dan menerima konsekuensi dari pilihannya.

Kepemimpinan pertama bukan memimpin orang lain, melainkan mengatur diri sendiri. Seperti bernapas, kita menerima sesuatu dari luar, mengolahnya di dalam, lalu mengembalikannya dalam bentuk tindakan….
sehingga agency menjadi proses menerima, mengolah, dan bertanggung jawab.

SISTEM YANG HIDUP

Jika manusia merasa sulit mengatur dirinya sendiri, ia akan terus membutuhkan pusat yang mengatur untuknya. Tetapi jika setiap individu, keluarga, komunitas, dan daerah semakin mampu self-govern, pusat dapat bergeser dari pengendali menjadi pengoordinasi.

Mungkin sistem yang sehat memang seperti napas….
menarik, mengolah, menghembuskan, lalu menerima kembali. Ada kalanya hidup dengan memusatkan, dan ada kalanya melepaskan; kehidupan muncul dari ritme pertukaran antara pusat dan jaringan, menerima dan memberi, diri dan lingkungan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index