Nobar Film Kuyank Diserbu Warga Tembilahan, Sutradara Johansyah Puji Bioskop Dadakan TFF

Nobar Film Kuyank Diserbu Warga Tembilahan, Sutradara Johansyah Puji Bioskop Dadakan TFF

VLOOD.ID - Antusiasme masyarakat Tembilahan terhadap pemutaran film Kuyank begitu luar biasa. Kegiatan nonton bareng (nobar) yang digelar oleh Tembilahan Film Festival (TFF) di Gedung Daerah Engku Kelana Tembilahan sejak 14 hingga 17 Mei 2026 sukses menarik perhatian warga dari berbagai kalangan. Bahkan, Sutradara Film Kuyank, Johansyah Jumberan, mengaku kagum dengan konsep bioskop dadakan yang dinilai memiliki pelayanan terbaik.

Komunitas penggiat perfilman Indragiri Hilir yang dipimpin Sendiko P Islami dipercaya menjadi penyelenggara nobar Film Kuyank. Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama antara Production House DHF dengan FORISMAKA Group yang didirikan Indrawansyah Syarkowi. Dalam pelaksanaannya, FORISMAKA menggandeng komunitas daerah untuk menghadirkan pengalaman menonton yang berbeda bagi masyarakat.

Tak hanya menghadirkan layar lebar dadakan, panitia juga membuka tenant UMKM yang menjual berbagai makanan ringan dan minuman guna menambah kenyamanan pengunjung. Selain itu, tersedia pula photo booth hingga penjualan merchandise khas Film Kuyank seperti kaos, pin, hingga minyak kuyank yang menarik perhatian penonton.

Kemeriahan nobar turut dihadiri Herman bersama istri dan jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah. Kehadiran mereka didampingi langsung oleh Sutradara Film Kuyank, Johansyah Jumberan, serta Pendiri FORISMAKA, Indrawansyah Syarkowi.

Dalam sambutannya, Bupati Herman mengapresiasi hadirnya Film Kuyank di Tembilahan. Menurutnya, film tersebut bukan hanya menjadi hiburan masyarakat, tetapi juga sarana memperkenalkan budaya Banjar kepada generasi muda.

“Saya mengapresiasi penayangan Film Kuyank di Tembilahan. Selain mengenalkan kembali budaya Banjar, film ini juga mendorong kreativitas anak-anak muda untuk berkarya di bidang perfilman,” ujar Herman.

Ia juga berharap ke depan akan muncul film-film yang mengangkat budaya lokal Indragiri Hilir, termasuk legenda Raja Bujang yang dinilai memiliki potensi besar untuk diangkat ke layar lebar.

“Ke depan kita berharap ada film yang mengangkat budaya lokal seperti legenda Raja Bujang. Itu sangat bagus dijadikan film,” tambahnya.

Suasana nobar berlangsung meriah. Penonton terlihat antusias menikmati alur cerita yang memadukan unsur horor, komedi, budaya, hingga adegan emosional yang membuat suasana bioskop dadakan terasa hidup dan penuh gelak tawa.

Sementara itu, Johansyah Jumberan mengaku terharu dengan sambutan masyarakat Tembilahan terhadap karya filmnya. Ia menyebut suasana di Tembilahan terasa seperti rumah sendiri dan memberikan apresiasi tinggi kepada panitia TFF yang dinilai mampu menghadirkan bioskop dadakan dengan fasilitas maksimal.

“Kami senang bisa hadir langsung ke Tembilahan dan suasananya terasa seperti rumah sendiri. Kami juga sangat mengapresiasi adik-adik TFF yang mampu menyiapkan bioskop dadakan dengan layanan maksimal,” kata Johansyah.

Pendiri FORISMAKA, Indrawansyah Syarkowi, juga menyampaikan rasa terima kasih kepada TFF dan masyarakat Tembilahan atas suksesnya acara tersebut. Ia menilai kreativitas dan inovasi anak muda Tembilahan menjadi bukti bahwa industri perfilman daerah memiliki masa depan yang menjanjikan.

“Alhamdulillah sambutan masyarakat luar biasa. Terima kasih untuk TFF, Sendiko dan kawan-kawan. Tetap semangat dan terus berkarya,” ungkap Indrawansyah.

Tak berhenti di Tembilahan, FORISMAKA kini berencana menghadirkan bioskop dadakan dan nobar Film Kuyank di Rengat serta Kuala Tungkal. Saat ini proses pemilihan komunitas lokal untuk penyelenggaraan acara masih berlangsung.

Melihat tingginya minat masyarakat terhadap nobar Film Kuyank, banyak pihak menilai Tembilahan sudah layak memiliki bioskop permanen sebagai wadah hiburan sekaligus pengembangan industri kreatif daerah.

#Indragiri Hilir

Index

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index