Kesenian Jalan di Tempat? Seniman Pertanyakan Peran Sistem dan Minimnya Ruang Kreatif

Kesenian Jalan di Tempat? Seniman Pertanyakan Peran Sistem dan Minimnya Ruang Kreatif

VLOOD.ID - Di tengah geliat kreativitas yang seharusnya terus berkembang, keresahan justru muncul dari kalangan seniman sendiri. Dalam sebuah diskusi santai di salah satu cafe, berbagai pelaku seni lintas disiplin berkumpul dan membicarakan satu hal yang sama—kesenian yang terasa berjalan di tempat.

Tanpa panggung formal atau agenda resmi, obrolan ringan itu perlahan berubah menjadi ruang refleksi yang jujur. Dari seni rupa, teater, sastra hingga musik, semua sepakat ada sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.

“Ini kesalahan seniman, atau sistemnya?” tanya Arif Mulya, yang akrab disapa Aka. Pertanyaan itu sederhana, namun langsung mengubah arah diskusi menjadi lebih dalam dan kritis.

Guntur dari komunitas seni rupa Inhil (KOPI) mengungkap realitas yang dihadapinya. Ia menyoroti minimnya regenerasi dalam komunitas, yang kini hanya diisi segelintir anggota. Keterbatasan ruang juga menjadi persoalan utama.

“Kami pernah dijanjikan wadah oleh pemerintah, tapi sampai sekarang belum benar-benar ada tempat yang bisa digunakan,” ujarnya.

Ironisnya, di tingkat Provinsi Riau, karya mereka justru masih mendapat apresiasi. Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah persoalan utama hanya soal fasilitas, atau ada masalah yang lebih mendasar dalam sistem?

Sementara itu, Ari Musafia, sutradara sekaligus pendiri Bengkres, mengenang masa ketika teater berkembang sebagai gerakan aktif yang menjangkau hingga sekolah-sekolah. Namun kini, menurutnya, geliat tersebut mulai meredup.

Ia menilai kesenian membutuhkan arah yang lebih jelas dan terhubung dengan visi daerah. Tanpa itu, aktivitas seni berpotensi berjalan tanpa tujuan yang kuat.

Dari sisi sastra, Ahmad Riduwan melihat diskusi ini sebagai momentum penting. Ia menyoroti hilangnya ruang kreatif yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga emosional dan kultural.

“Sekarang semakin sulit menemukan tempat di mana ide bisa bertemu secara utuh—tidak hanya lewat kata, tapi juga suasana dan rasa,” ungkapnya.

Berbeda dengan pandangan sebelumnya, Acik Ical, penggiat musik tradisi dari PWJ (Pasar Wadai Jamaika), menilai bahwa seniman sebenarnya tetap bisa bergerak secara mandiri tanpa bergantung pada pemerintah.

Namun ia menegaskan pentingnya panggung sebagai ruang pembuktian.

“Di era digital, semua orang bisa tampil. Tapi tampil langsung di depan publik itu berbeda. Di situlah mental dan keberanian diuji,” jelasnya.

Pandangan ini membuka perspektif baru: jika ruang bisa diciptakan secara mandiri, maka di mana sebenarnya posisi sistem dalam mendukung ekosistem seni?

Nunuk dari Sanggar Citarasebati menawarkan solusi melalui kolaborasi lintas disiplin. Ia menilai stagnasi bisa terjadi karena pola yang monoton dan kurangnya keberanian untuk keluar dari batas-batas seni masing-masing.

“Kenapa tidak digabungkan saja? Musik, sastra, teater, dan seni rupa tampil bersama,” usulnya.

Diskusi malam itu tetap berlangsung santai, diselingi tawa. Namun di balik suasana hangat, tersirat kegelisahan yang sama: ada sesuatu yang belum berjalan optimal dalam dunia kesenian.

Beberapa organisasi sempat disinggung sebagai bahan refleksi, terutama terkait pengelolaan, arah kebijakan, dan minimnya ruang dialog terbuka.

“Kalau mau duduk bersama, sebenarnya banyak hal bisa dibenahi,” ujar Aka.

Namun hingga kini, ruang tersebut belum sepenuhnya terwujud.

Diskusi itu memang tidak menghasilkan keputusan atau kesepakatan besar. Tapi justru di situlah letak nilainya—ketika pertanyaan lebih banyak muncul daripada jawaban.

Apakah ini sekadar stagnasi sementara?

Ataukah ini tanda adanya sistem yang belum mampu, atau bahkan belum sepenuhnya memberi ruang bagi kesenian untuk tumbuh secara jujur? 

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index